| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nikmah Sarjono, penerjemah |
Diluar Mimpi Kelak jiwaku yang dalam Tak punya lagi bayangan jika berjalan Di bawah matahari atau terang lampu; Jiwaku adalah sinar itu sendiri. Pada baris dan bait puisi yang kau tulis Akan kau kenal dengan baik suaraku; Bagaimana aku menembang juga menimbang Kesepian, kesunyian, dan kesendirian Jadi larik-larik hujan yang turun sore hari Dengan amat lembutnya. Larik-larik itu diam-diam Menumbuhkan benih kerinduan dalam dadamu padaku. Lalu bagai dentang lonceng pagi Kesepian, kesunyian, dan kesendirian; tanpa ragu Mengguncang ranjangmu dari balik jendela 1997 Outside Dreams Tomorrow the deep side of my soul Will not have a shadow when it walks Under the sun or lamplight; My soul is the light itself. Within the lines and the rhymes of poetry you’ve written, you will easily recognize my voice; How do I sing, how do I think Loneliness, solitude and desolation Become raindrops falling gently In the afternoon. Those raindrops silently Grow the seeds of longing in your heart to me. And then like the ring of a morning bell Loneliness, solitude and desolation; no doubt Shaking your bed from behind the window 1997 translated by Nikmah Sarjono Kau Memang di musim salju Tak ada bunga kuncup walau sepucuk Tapi di dasar kalbuku; kau setangkai angkuli Mekar sudah. Malam hanya angin dingin Mengetuk-ngetuk jendela kamarku, Menggigilkan pepohonan. Tapi bara yang kau taruh dalam hatiku; berkobar, Menjelma api, menghangatkan pikir dan rasa Mencairkan gairah hidupku yag nyaris beku Sepadat batu. Di lain waktu kau adalah arus air Mendenyutkan sungai yang dikerontangkan Terik matahari. Kau arah yang kutuju Bebas dari kehancuran 2001 You Indeed in the winter There isn’t a single bud of flower But in the bottom of my heart; You are a beautiful Angkuli In bloom Night is only the cold wind Knocking on my window Trembling the trees. But the flame You aroused in my soul; blazing Becomes fire, warms my thoughts and senses Melting my almost frozen passion of life Like a rock. At other times you are the water flowing Throbing again the dry river Dehydrated by the sun. You are my destination Free from destruction. 2001 translated by Nikmah Sarjono Literatur Seorang Buruh Pabrik di Tengah Gemuruh Kota Jakarta Tuhan Yang Maha Pemurah telah kuhayati lembaran koran kuning Di tengah gemuruh Kota Jakarta, memberikan seribu kemungkinan Padaku untuk bunuh diri Setelah berita gerak beton dan baja dan film dan video kaset Semakin menggesitkan pacarku jadi pelacur jalanan. Kota terus mengusik benakku. Menumbuhkan pikiran tanpa hati membentangkan keasinganku. Akan hidup. Akan bahasa Terpelihara warna pakaian Status dan kehormatan menjelma kuburan tanpa kembang kabung. Tuhan Yang Maha Bijaksana sepanjang jalanku, matahari berkobar Pabrik-pabrik terus menderu. Tanpa henti memeras rasa gula Dari tebu jiwaku. Lihat, kengerian yang tumbuh dalam bola mataku Seribu singa yang lapar mengaum sepanjang tanah perburuan Hingga darah, dendam dan dengki sakti menggemerincingkan ajal Warna yang tak pernah berubah rupa bungkus sejarah moyangku! Aku Tersedu. Aku seru keseimbangan cakrawala Suaraku terlindas radio bernyanyi. Terlindas kemiskinan yang tetap Menjadi warna hidupku. Keserakahan terus merampokku Sampah ruhaniku yang berlumur cinta pun: berontak, menggeserkan Batu-batu, yang diam dan angkuh di dasar kali kehidupan. Lautan bergelora tanpa henti, menghantam batu karang 1985 Literature of a Factory Worker in the Clamorous Jakarta Lord the Beneficent, I’ve absorbed the yellow newspaper pages In the clamorous Jakarta, they gave me a thousand reasons to kill myself After the broadcast on the movement of the steels and concrete walls and movies And video cassettes, my girlfriend transformed into a whore This city keeps annoying my mind. Develops rationality without emotion Spreads my alienation out. It keeps on living. Your status and dignity became Flowerless tombs. Restlessly squeezing the sugar canes of my soul. Look, this fear growing within my eyeballs Thousands of hungry lions roaring alongside the hunted land Until blood, revenge and the powerful envy tinkle the sound of death The eternal color that wrapped upon my ancestor’s history! I sobbed. I shouted at the balance in the horizon My voice was run over by the singing radio. Run over by the poverty That constantly becomes the color of my life. Greeds keep robbing me Until finally my love-smeared spirit: struggles, lifts up the silent and Arrogant rocks from the bottom of the river of life. The sea seethes, simultaneously beating up the rocks. 1985 translated by Nikmah Sarjono Kubur Sunyi Setiap hari kita selalu bercakap Tentang anak-anak, rumpun mawar, juga posisi Ranjang yang diubah letaknya. Semua itu keriangan tersendiri bagi kita. Sungguh tak terlintas dalam percakapan kita Pada suatu hari nanti Raga ini bakal berpisah dengan nyawa. Berpisah bagai bh yang dicopot dari tubuhmu Dan dilempar begitu saja Ke lantai yang kotor dan berdebu. Percakapan kita tentang kanak-kanak Rumpun mawar, juga posisi ranjang Yang diubah letaknya: Akan jadi kubur sunyi bagi jiwa Yang ditinggalkan 1997 The Quite Tomb Everyday we talk About the children, bunch of roses, and also About the newly rearranged bed position. All of that is our unique joy. Not even once occur in our conversation That one day this body will be separated from The soul. Separated, like the bra you took off From your breasts, and simply being thrown away On the dirty and dusty floor. Our conversation about childhood Bunch of roses, and the newly rearranged Bed position: will become the quiet tomb for A soul who’s been deserted. 1997 translated by Nikmah Sarjono Paris La Nuit Dua jam yang lalu Di Brasserie Lipp sambil minum anggur Kutunggu Charles Baudelaire, Ia tak kunjung datang dari negeri kelam. Omongan balau, asap rokok, Juga sebaris imaji yang liar melintas di situ. Malam beranjak tua mengenakan mantelnya Yang hitam bergaris angin musim dingin. Sepanjang Saint-Germain Lampu manyala. Kata dan lagu asing Menyerbu pendengaranku. Cahaya bulan dan bintang disapu kabut. Langkah kakiku terasa penat, naik turun Undakan nilai-nilai berduri maut. Sebab hidup mengalir ke hilir Sebab bahagia dan derita tipis batasnya Sekali lagi dalam hawa yang dingin Kuteguk anggur merah. Perlahan dan sangat perlahan di hadapan Gerbang dunia tak di kenal membuka Cahayanya lebih sunyi dari ribuan lampu Yang menyala sepanjang Saint-Germain Manusia lalu di sana, seperti katamu, Menyeberangi hutan lambang* 1999 *selarik sajak Correspondances, karya Charles Baudelaire, terjemahan Wing Kardjo. Paris La Nuit Two hours ago In Brasserie Lipp drinking wine I waited for Charles Baudelaire, He was not yet to come from the dark country. Small talks, cigarrette’s smoke, And a line of wild imagination were passing by. The night grew older, wearing its black-winter’s wind- Stripped-coat. Along the Boulevard Saint Germain The lamps are glowing. Words and songs in foreign language Invades my ears. Moonlight and starlight were swept away By the mist. My footsteps began heavier, walking up and down the stairs of values with its thorned death. Because life flows to the downstream Because happiness and sorrow separated by such a thin limit In the cold, I once again sip the red wine. Slowly, and very slowly, before the arch An unfamiliar world opens its radiance More quiet than thousands of glowing lamps Along the Boulevard Saint Germain Then there are humans, like you said, Crossing the forests of symbols 1999 translated by Nikmah Sarjono Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. Lulus dari sebuah sekolah menengah atas di kotanya, ia melanjutkan studinya di jurusan teater STSI Bandung. Di masa mahasiswanya inilah Soni mulai menulis puisi. Soni banyak menulis tema kesepian dan kesunyian di samping tema-tema politik, masalah sosial, agama, tema-tema yang kerap muncul dalam, dan menjadi refleksi dari, kehidupan sehari-hari. Sejumlah puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Jerman dan dipublikasikan dalam antologi Winternachten Festival (Den Haag, 1999) dan Orientierungen, sebuah jurnal kebudayaan yang terbit di Jerman, (2/2000, Universitat Bonn, Jerman). Buku-bukunya yang telah diterbitkan adalah : Di Luar Mimpi/Outside Dreams(PT. Rekamendia Multiprakarsa, 1997) and Kita Lahir Sebagai Dongengan/We Born as a Fairy Tale (Indonesia Tera, 2000). Karya-karyanya juga dimuat dalam sejumlah antologi, antara lain; Gelak Esai dan Ombak Sajak/The Laughter of Essay and the Wave of Poem (Kompas 2001); Horison Sastra Indonesia/Horison Sastra Indonesia (Horison & The Ford Foundation, 2002). Soni Farid Maulana beberapa kali diundang membaca puisi oleh Dewan Kesenian Jakarta dan tampil membacakan puisinya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia diundang sebagai peserta Pertemuan Sastrawan Asia Tenggara di Queezon City, Filipina, 1990, dan The Winternachten Poetry Festival di Belanda, 1999. Sejak 1989 ia bekerja sebagai wartawan kortan Pikiran Rakyat, Bandung. Soni Farid Maulana was born in Tasikmalaya, West Java, February 19, 1962. After finishing high school in his hometown, Tasikmalaya, he became a student in the Theatre Department, STSI Bandung. It was in his days as a student in STSI that he began to write poetry. Soni oftenly writes about loneliness and tranquility, as well as other themes such as politics, social problems, religion, death, themes that always appear in everyday life and sometime enchanted to be made a reflection out of it. Some of his poetry have been translated into Dutch and German and published in the Anthology of Winternachten Festival (Den Haag 1999) and a German Journal; ‘Orientierungen’ (2/2000, Universitat Bonn, Germany). His collection of poems are: Di Luar Mimpi (1997) and Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000). His works are also included in several anthologies, such as; Dari Fansuri Ke Handayani (Horison & The Ford Foundation, 2001); Gelak Esai dan Ombak Sajak (Kompas 2001). Soni Farid Maulana had been invited several times by the Jakarta Arts Council to perform in Taman Ismail Marzuki (TIM) presenting his poetry. He also participated the South East Asian Writers Conference in Queezon City, The Philipines in 1990, and The Winternachten Poetry Festival in The Hague, in 1999. Since 1989 he worked as an editor in a major neswpaper in Bandung, Pikiran Rakyat.
| Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Eric Senjaya |
ada kenangan menjaringku saat melati kutabur ada gerimis dan rumputan menggema dalam pengupinganku yang kau perdengarkan saat malam bersekutu dengan sunyi
Petikan puisi ”Di Pemakaman” inilah yang pertama dia lahirkan tahun 1976. Puisi ini dia ciptakan untuk mengenang Almarhumah Oneng Rohana, neneknya. Kecintaannya pada nenek yang merawat dan mengasuh semenjak dia kecil, memperkenalkan dia pada puisi, khususnya teks-teks tembang sunda yang sering didendangkan saat menidurkan dia di waktu kecil, menempa dia menjadi seorang penulis puisi yang jenius.
Dengan puisi itu, dia tidak rendah diri dihadapan puisi lain yang ditulis orang. Dia terus berupaya menjadi diri sendiri. Wajarlah bila Rendra mengatakan dia sebagai penyair yang berkembang dengan pesat, yang terus mencari kesempurnaan pengucapan bagi puisi-puisi yang tengah ditulisnya.
Adalah Soni Farid Maulana, jurnalis dan penyair yang akrab disapa kang Soni ini lahir di Tasikmalaya, dari pasangan R. Sarah Solihati dan R. Yuyu Yuhana.
Bapak tiga anak ini memiliki kenangan tersendiri dengan bulan Februari, Ia dilahirkan 19 Februari 1962. Istrinya, Heni Hendrayani dilahirkan 17 Februari 1966. Kemudian, Ia menikah 19 Februari 1990. Mulai bergabung di Pikiran Rakyat akhir Februari 1990. Perjalanan karier internasionalnya pun dimulai 1 Februari 1990 (Filipina).
Perjalanan karier hingga jenjang internasional itu tidak didapatnya dengan mudah, dia ditempa berbagai tembang sunda semenjak umur satu tahun oleh sang nenek, darah seni mulai mengalir di nadi Soni saat itu. Pengembaraan berlanjut hingga SMP, dia mengenal Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sapardi Djoko Damono, dan Rendra. Kemudian, Alumni Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung ini semakin mendalami puisi setelah mengenal Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Baudelaire, Abdul Hadi W.M., Tufu, dan Wing Kardjo.
Berbekal pengalaman dari tokoh-tokoh itulah, dia mulai mempublikasikan puisinya di HU Pikiran Rakyat, lewat rubrik ”Pertemuan Kecil” yang diasuh oleh Saini K.M. Akhirnya, Dia pun bergabung dengan “PR” tahun 1990. Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis, penyair yang kasengsrem tembang Sunda cianjuran, Mupu Kembang dan Ceurik Rahwana ini adalah penyair yang produktif. Beberapa kumpulan puisinya sudah diterbitkan, di antaranya adalah Angsana (Ultimus, 2007), Sehampar Kabut (Ultimus, 2006), Secangkir Teh (Grasindo, 2005), Variasi Parijs van Java (Kiblat, 2004), Tepi Waktu Tepi Salju (Kelir, 2004), Selepas Kata (Pustaka Latifah, 2004), dan Kalakay Mega (1992).
Dua kumpulan puisi, masing-masing Sehampar Kabut (Ultimus, 2006) masuk dalam Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2005-2006, dan Angsana (Ultimus, 2007) masuk dalam Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2006-2007. Disamping kumpulan puisinya, sebagai jurnalis pun Soni mendapat hadiah dari PWI Pusat, yakni Anugerah Jurnalistik Zulharmans pada tahun 1999 atas sebuah esai yang ditulisnya berjudul Penyair Taufiq Ismal Peka Sejarah. Pada tahun yang sama, Soni mendapat pula Hadiah Sastra LBSS untuk sebuah puisi Sunda yang ditulisnya.
Selain mendapat penghargaan, puisi-puisi yang dia tulis banyak yang dibahas, baik dalam bentuk esai, skripsi, maupun disertasi. Salah seorang penulis asing yang menulis puisi Soni untuk disertasinya adalah Ian Campbell dari Australia. Puisinya selain diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, juga kedalam bahasa Jerman dan Belanda. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linde Voute dalam antologi Winternachten (1999). Sementara dalam bahasa Jerman, beberapa puisinya terbit di majalah Orientirungen (2000) melalui terjemahan Berthold Damshäuser.
Mengapa banyak orang tertarik dengan puisi soni? Jawabannya, cinta. Cinta merupakan kekuatan puisi Soni, dalam pengertian bahwa melalui metafora-metafora cinta dalam cakrawala yang luas itu, makna-makna religiusitas dapat dihayati secara mendalam. Pengamat sastra, Korrie Layun Rampan dalam bukunya Angkatan 2000: Dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2000) juga mengatakan hal yang sama.
Selain cinta, Soni juga menulis sejumlah puisi dengan latar belakang luar negeri. Sejumlah puisinya yang bertema musim dingin, baik mengenai Paris, Den Haag, Leiden, dan sejumlah tempat lainnya di Eropa. Dua puisi yang cukup menggetar antara lain berjudul Di Negeri Salju yang didedikasikan kepada Rendra, dan Berjalan di Pinggir Sungai Seine yang dipersembahkan kepada istrinya. Kedua puisi tersebut ditulis pada tahun 1999. Pada tahun itu, Soni memang berkesempatan ke luar negeri, Belanda, mengikuti Festival de Winternachten bersama Rendra, yang setelah itu dilanjutkan ke Paris.
Disamping menulis puisi, berbagai kesempatan baca puisi telah diikuti oleh penyair yang hobi membaca komik dan menonton film kartun ini. Ia antara lain hadir di Forum Puisi Indonesia 1987 yang diselenggarakan DKJ; Asean Writers Conference IV (1990) di Queezon City, Filipina; Festival de Winter-nachten di Den Haag, Belanda (1999); Puisi International Indonesia di Bandung (2002), dan International Literary Biennale 2005: Living Together di Bandung (2005). Selain itu, dia pun senang menulis cerpen , beberapa kumpulan cerpennya antara lain, Orang Malam (Q-Press, 2005), Di Luar Mimpi (1997), Kita Lahir sebagai Dongengan (2000), dan Palung Rasa (2001). Memang, kesibukan Soni saat ini dicurahkan pada cerpen dan novel.
“Saya rasa sudah cukup saya bergelut dengan puisi, mudah-mudahan Februari 2008 saya akan menerbitkan dua kumpulan puisi terakhir. Puisi yang bersumber Hadist Muhammad dan Alqur’an akan menjadi penutup kumpulan puisi saya,“ kata Soni.
(Eric Senjaya - Pusat Data Redaksi/Dari Berbagai Sumber) | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Sebuah Ingatan dari "Menulis Puisi Satu Sisi" Penyair, Proses Kreatif dan Kepala Batu
Oleh ABDAN SYAKURO
Kini Soni telah menjadi penyair. Telah mampu memaparkan pengalaman dirinya selama berproses dan berkiprah di dunia sastra. Peran yang ditunjukkan "Tim Apresiasi Sastra Keliling" ketika menunjuki jalan yang harus ditempuh dalam mewujudkan obsesi kepenyairannya, telah mampu diambil alih secara lebih sempurna oleh Soni Farid Maulana
SUATU hari, bulan Februari 1981, di lobi Hotel Santosa, Tasikmalaya. Rombongan "Tim Apresiasi Sastra Keliling", yang terdiri dari Eddy D. Iskandar, Yessi (sekarang Yesmil) Anwar, Juniarso Ridwan, Karno Kartadibrata, Godi Suwarna, Usep Romli HM, dan Taufik Faturohman, baru saja menyelesaikan tugas. Mereka memberikan ceramah tentang sastra di hadapan siswa-siswi SMA se-Tasikmalaya, diselingi pembacaan puisi, baik dari anggota tim, maupun dari siswa-siswi yang berminat. Salah seorang siswa tampaknya kurang puas. Ketika anggota tim beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Ciamis dalam rangka kegiatan yang sama, siswa tersebut terus saja bertanya-tanya mengenai berbagai hal tentang puisi.
Semua pertanyaan bersifat elementer khas anak sekolah. Antara lain mengenai cara membuat puisi, membedakan puisi yang baik dan yang buruk, cara mengirimkannya ke media massa, dan bermacam tetek bengek lagi. Semua pertanyaan dijawab dengan sabar oleh para anggota tim yang dianggap sebagai "penyair" dan "sastrawan" itu, tiada lain, ya, para anggota tim "Apresiasi Sastra Keliling" yang mengemban tugas dari Badan Kordinasi Kebudayaan Nasional Indonesia (BKKNI) Provinsi Jabar, bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud Jabar. Mereka berkunjung ke SMU di Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Kuningan, untuk memberikan wawasan apresiasi sastra.
Dan siswa SMA Pancasila Tasikmalaya yang begitu "cerewet" itu, adalah Soni Farid Maulana
Para anggota tim yang tidak punya waktu banyak -- kecuali menjawab pertanyaan sambil makan siang -- menganjurkan, agar Soni rajin mengirim puisi karyanya ke rubrik Pertemuan Kecil di HU Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM. Dan jika sudah lulus SMA (waktu itu Soni baru kelas dua), lebih baik melanjutkan sekolah di Bandung, agar dapat bergaul lebih intensif dengan para seniman sastra.
Saran para anggota tim diterima dan dilaksanakan dengan baik oleh Soni. Beberapa bulan kemudian, satu dua sajaknya muncul di rubrik Pertemuan Kecil. Saini KM memberinya ulasan yang sangat mendorong semangat Soni sebagai penyair pemula, untuk lebih meningkatkan karya-karyanya.
Kegiatan tim "Apresiasi Sastra Keliling" hanya berlangsung sekali itu. Ketidakadaan biaya -- namun yang terutama, keterlibatan langsung BKKNI dengan salah satu organisasi politik kontestan Pemilu 1982 -- tak memungkinkan para seniman/sastrawan anggota tim bergerak leluasa.
Tapi walaupun hanya sekali, ternyata cukup berhasil melahirkan seorang calon penyair berbakat era tahun 1980-an. Ya, Soni Farid Maulana, yang hanya tiga atau empat tahun setelah diparancahan oleh anggota " Tim Apresiasi Sastra Keliling", telah menjelma menjadi seorang penyair Indonesia dan Sunda terkemuka saat ini. Sedangkan anggota tim "Apresiasi Sastra Keliling" rata-rata sudah sibuk di bidang masing-masing.
Eddy D.Iskandar lebih banyak menulis skenario film atau sinetron. Sekali-kali masih menulis cerpen dan sajak di Tabloid Galura yang kini dipimpinnya. Yessi Anwar berkiprah di dunia pendidikan, sebagai dosen hukum di almamaternya, Unpad. Karno Kartadibrata, yang sajak-sajaknya unik menarik, terkumpul di dalam Lipstick (1982), tenggelam di tengah kesibukan mewujudkan gagasan "pers Sunda" melalui Majalah Sunda Mangle. Usep Romli HM, memang masih melahirkan karya-karya cerpen dan sajak (kumpulan cerpen terbarunya Paguneman jeung Firaon terbit 2003), tapi lebih menonjol sebagai wartawan dan penggiat dakwah. Taufik Faturohman sibuk menjadi penerbit buku-buku pelajaran sekolah dan mengurus Persib. Juniarso Ridwan anteng sebagai birokrat Pemda Kota Bandung, walaupun tetap aktif menulis dan menggerakkan roda kegiatan seni-budaya Jawa Barat lewat Forum Sastra Bandung (FSB). Godi Suwarna betah bermukim di pedesaan Ciamis, menulis karya-karya puisi eksperimental, membacakannya serta menggeluti dunia teater. Sekali-kali hadir di Bandung untuk menggebrak arena pertunjukan seni-budaya.
Sedangkan Soni Farid Maulana tetap aktif kreatif sebagai penyair yang telah diakui eksistensinya di kancah sastra nasional, bahkan internasional. Padahal sehari-hari sibuk bekerja sebagai redaktur budaya Khazanah di HU Pikiran Rakyat Bandung.
**
MATA air kepenyairan Soni selama dua puluh terakhir tampak semakin subur. Ia telah menulis ratusan puisi. Semua terkumpul di dalam Tepi Waktu Tepi Salju (Kelir, 2004), Selepas Kata (Pustaka Latifah, 2004), Variasi Parisj van Java (Kiblat Buku Utama, 2004), dan sebuah antologi cerita pendek Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati (Pustaka Latifah, 2004). Bahkan ia masih sempat menulis dan menghimpun kumpulan esai puisi dua jilid tebal, berjudul Selintas Puisi Indonesia (PT Grafindo Media Pratama, 2004). Diikuti kumpulan esai semi biografi yang merupakan ungkapan proses penciptaan puisi dan kreativitasnya sebagai penyair, Menulis Puisi Satu Sisi (Pustaka Latifah, 2004).
Berkat aktivitas dan bakat kepenyairannya, Soni sempat melanglang buana. Diundang mengikuti acara South East Asian Writers Conference di Queezon City, Filipina (1990), Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999) dilanjutkan keliling Eropa Barat, dan membacakan puisi di Kedubes RI di Paris Prancis. Suatu kesempatan yang jarang diperoleh sastrawan lain yang seusia.
Ia juga berkali-kali menjadi narasumber pada forum Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diselenggarakan Majalah Sastra Horison di berbagai kota di Indonesia. Suatu kegiatan yang sebenarnya pernah dirintis di Jawa Barat, oleh tim "Apresiasi Sastra Keliling", dua puluh tahunan lampau, yang tanpa sengaja menjadi "pemandu bakat" penyair sekaliber Soni Farid Maulana
Kini Soni telah menjadi penyair. Telah mampu memaparkan pengalaman dirinya selama berproses dan berkiprah di dunia sastra. Peran yang ditunjukkan "Tim Apresiasi Sastra Keliling" ketika menunjuki jalan yang harus ditempuh dalam mewujudkan obsesi kepenyairannya, telah mampu diambil alih secara lebih sempurna oleh Soni Farid Maulana
Mampukan ia melahirkan -- minimal menemukan bakat-bakat kepenyarian yang kadang-kadang terpendam entah di mana dan entah karena apa -- penyair-penyair, sastrawan-sastrawan dan seniman-budayawan baru? Waktu dan kesempatan yang akan menjawabnya kelak, meski ia saat ini telah menemukan bakat kepenyairan Ratna Ayu Budhiarti, Silfy Purnamasari, dan sejumlah nama lainnya lewat rubrik puisi yang diasuhnya di lembaran seni dan budaya Khazanah di H.U. Pikiran Rakyat. Walau demikian, tentu saja kita tak dapat memprediksikannya sekarang, karena sastra seni dan budaya merupakan wilayah abstrak dan tidak eksak, apakah kepenyairan mereka akan terus tumbuh atau patah di tengah jalan.
Sebagai contoh, bibit yang semula diduga cukup berbakat yang ditemukan oleh "Tim Apresiasi Sastra Keliling", ternyata banyak berguguran di tengah jalan. Sedangkan yang tak terperhatikan, layu sebelum berkembang, karena tak ada cahaya yang menuntunnya.
Soni merupakan kekecualian. Pertemuan dirinya dengan "Tim Apresiasi Sastra Keliling" yang dengan dana paspasan berkunjung ke SMA-SMA, bukan merupakan suatu kebetulan. Tapi sebuah tonggak bersejarah yang harus diestafetkan tanpa henti.
Sebagai penyair, Soni Farid Maulana sudah berada jauh di garis terdepan. Namun ia masih sempat menengok ke belakang. Memberi panduan kepada generasi sesudahnya, untuk mengikuti jejak kesastrawanannya, melalui karya tulis yang ia lahirkan.
Ucapan selamat plus kekaguman perlu disampaikan kepada Soni. Namun jangan lupa. Energi dan wawasan manusia kadang terbatas. Apalagi jika diforsir terus-menerus tanpa penjagaan yang cukup, berupa kemauan belajar tanpa henti dan tidak lupa diri. Juga tidak puas diri. Suatu saat perlu introspeksi dan kontemplasi, di samping itu harus pula mendengar kritik dan saran dari siapapun yang punya perhatian terhadap potensi yang tersedia di dalam dirinya. Apa yang ditulisnya dalam buku Menulis Puisi Satu Sisi cukup menarik diapresiasi, setidaknya kita bisa lebih jauh mengenal sekaligus memahami proses kreatif Soni sebagai penyair.***
*) Abdan Syakuro, santri dan peminat sastra-budaya. Tinggal di Limbangan, Garut.* Pikiran Rakyat, 22 Agustus 2004
| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | soni farid maulana |
Menjelajah "Tepi Waktu Tepi Salju" Soni Farid Maulana
”Comparative Advantage” Dalam Puisi
Oleh Dr. JUNIARSO RIDWAN
HANYA beberapa penyair yang memiliki vitalitas demikian tinggi, di antaranya penyair yang tidak asing lagi bagi publik Jawa Barat, yaitu Soni Farid Maulana (SFM). Produktivitasnya acapkali menimbulkan kecemburuan di kalangan sesama penyair. Pada tahun yang berurutan bisa bermunculan buku kumpulan puisinya. Memang secara kuantitas, buku yang terbit merupakan ciri yang bisa dirasakan, bahwa penyair masih menggeluti dunianya secara intens. Itulah identitas yang melekat pada diri SFM.
Memasuki tahun 2004 ini, SFM menerbitkan kumpulan puisinya di bawah judul Tepi Waktu Tepi Salju (Kelir, 2004) yang terdiri dari empat bagian, Dunia Tanpa Peta (1983-1985), Bulan Roboh di Ranjangku (1986-1990), Percakapan (1990-1998) dan Variasi Maut Dalam Hujan (1996-2004).
Dengan pembagian kumpulan puisi tersebut, sebenarnya pembaca dihadapkan pada perjalanan karier kepenyairan SFM. Jejak pencarian dan proses pematangan diri dalam merespons berbagai peristiwa yang melingkungi diri penyair, dapat dilacak dari sajian puisi yang disampaikan sesuai dengan penandaan waktu. Sejak awal SFM telah berusaha melepaskan diri dari pengaruh dominan tema yang yang menjadi kecenderungan pada tahun 1980-an, sergapan romantika kesepian manusia urban. Dalam puisi "Pengembara" kesepian itu telah menumbuhkan sebuah kesadaran baru, yang tidak terduga. Hal itu terasa pada dua bait terakhir, dengan mata merah. Masihkah kau kenang/ cara minum teh pagi hari? Seraya kupandang/ langit pekat dan hitam: aku mengenang kau// dari sebuah kota yang pengap oleh bau busuk/ dan bengisnya harapan, berkobar bagai api:/ membakar selembar daun-jasad tua ini.
Dalam peta kepenyairan tahun 1980-an, SFM dapat memahatkan namanya sebagai penyair yang peka terhadap berbagai gejolak sosial. Pengalaman personal tatkala bersinggungan dengan kondisi masyarakat yang resah, membuat SFM memasang fokus kepenyairannya dalam bingkai bahasa yang sederhana namun menyimpan kegeraman yang mendalam. Dapat dirasakan bagaimana gejolak hati SFM dalam puisi "Memo Kematian", diungkapkan lewat metafora yang cekatan, sampaikan pada dia! Di sini tak ada pohon/ cemara. Selain buldozer yang dendam/ menggasak rumah harapan. Mengekalkan airmata// tak ada terang lampu, selain kedip bintang/ selain desir angin dan gerik cengkrik yang menusuk/ pendengaran. Gerimis seakan gaib// (ah, batu! Siapa yang terbunuh siang tadi?/anyir darahnya tercium ke mari) Sunyi/ terpelihara salak anjing. Rumputan bergetaran.
Bagaikan sebongkah magnet, SFM -- yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis ini, dengan kepedulian kepada sesama yang pekat kemudian menyerap berbagai ratapan, jeritan dan tangisan sosok lainnya. Ungkapan yang disampaikan secara lugu, justru menjadi kekuatan yang segera bisa merambah perasaan pembaca. Kita temukan beberapa contoh ungkapan seperti itu, "tahun baru kali ini milik siapa?"/ tanyanya, terasa berat menekan/ lalu kabut turun perlahan/ menjengkal malam yang dingin/ bagai tiang listrik ("Ode Tahun Baru"); ada suara hutan menjerit/ Dari sebuah tusuk gigi di hadapanku/ tanah berumput/ keong lumpur yang mati// melayangkan ingatanku/ akan berbagai suku/ yang tumpur disapu banjir,/ disikat zaman kolonial yang bengis// ("Tusuk Gigi"), Setelah becak tersingkir/ dari keramaian hidup kota besar/ setelah becak/ dijadikan alasan keruwetan arus lalu lintas/ dan demi sekuntum keindahan/ kini pedagang asongan mendapat giliran ditertibkan/ semuanya berjalan mulus. Hingga BMW/ meluncur tenang bebas hambatan// ("Langgam Kota Besar").
Sebagaimana masyarakat negara berkembang pada umumnya, memasuki kehidupan modern ibarat berlayar di lautan luas. Kehidupan itu seolah menjelma sosok yang demikian penuh tantangan, membuat diri tersiksa oleh berbagai godaan duniawi, sementara itu kesiapan mental masih dibalut berbagai keragu-raguan. Kegelisahan kerap menghantui. SFM dengan kesadarannya menyampaikan apa yang ditangkap dari perkembangan kondisi di sekitarnya, kota terus mengusik benakku. Menumbuhkan pikiran tanpa/ hati membentangkan keasinganku. Akan hidup. Akan bahasa/ terpelihara warna pakaian, status dan kehormatan/ menjelma kuburan tanpa kembang kabung ("Literatur Seorang Buruh Pabrik di Tengah Gemuruh Kota Jakarta").
Meski dalam lawatannya ke mancanegara, menelusuri kota-kota modern, yang sebetulnya akan membuat orang terpikat oleh berbagai kemegahannya, tapi bagi SFM sebagian hatinya masih tertambat kuat di kampung halamannya. Berada di suatu tempat yang jauh dari tanah air, telah membangun kesadaran baru bagi SFM. Sikap kritisnya sebagai penyair semakin terasah, dengan melakukan komparasi visual. Penampakan fisik bangunan-bangunan megah, tak serta-merta menghentikan keingintahuannya tentang sejarah panjang tanah yang dipijaknya, kemudian dihubungkan dengan riwayat kepedihan yang melanda negeri tercinta. Penyair tetap ingat dari mana ia berangkat, ia tidak dapat melupakan orang-orang yang lekat dalam ingatannya, "di tanah Jawa/ temanmu ditembak mati/ untuk sarapan pagi!" kataku,// sambil menatap/ kedua bola matanya/ yang lucu, memandang/ tajam wajahku. "Jangankan/ menyantap burung. Tuan, bukankah/ di negeri Anda; sesama manusia/ saling memangsa?" katanya,/ seringan guguran salju menimbun kalbuku ("Sebuah Sajak dari Sudut Dam"), angin dingin bersiutan/ di luar jendela-dan kau/ tak ada di sampingku ("Gadis dari Rotterdam"), kapal rinduku laju padamu/ walau angin dan salju:membenihi maut/ dalam gentong anggur musim dingin ("Rotterdam Sehabis Hujan").
Daya tarik dari puisi-puisi SFM yang terhimpun dalam buku ini adalah pemakaian ungkapan yang sangat bersahaja. Rupanya dengan pengolahan seperti ini SFM terus berkiprah dalam wilayah kepenyairannya. Bagi saya, keberagaman puisi SFM ini (setelah mengamati puisi-puisi lainnya yang pernah dipublikasikan), paling tidak mencerminkan comparative advantage (keunggulan komparatif), artinya pengembangan obsesi personal memiliki kekuatan tersendiri, sehingga dalam menanggapi berbagai permasalahan sosial yang berkecambah di sekitarnya, ia tetap mempertahankan konsistensi sikapnya. Aspek visual yang diungkapkan sebagai respons batinnya, secara gamblang dia nyatakan dalam kata-kata yang menohok sangat imajinatif. Metafora yang dieksploitasi secara apik mengantarkan pembaca pada suatu suasana yang segera dapat ditangkap, seperti dalam puisinya "Negeri Air":
ikan-ikan berpakaian gemerlap dengan warna yang mengagumkan. bentuk mereka begitu murni, bagai sepasang buah dada yang polos, yang lolos dari perangkap silikon. di sana aku diajaknya ke tempat hiburan.
Bagi pembaca, ruang interpretasi yang disediakan oleh puisi-puisi SFM sudah tersusun dengan baik, karena kelengkapan aksesori gaya puitika yang mudah tersedia dan segera dapat dijadikan panduan untuk melangkah lebih dalam. Sejumlah puisi SFM sangat pekat mengungkap peristiwa yang dialami penyair, dari sana terbangun suasana imajinatif. Terdapat penggalan-penggalan peristiwa yang seolah diberi stabilo, dengan idiom yang terkait referensi tertentu, misalnya berhubungan dengan nama atau tempat.
Sebagai catatan, beberapa puisinya memang termuat juga dalam buku lain yang pernah terbit, namun demikian, bagi pembaca yang berniat melacak perjalanan karya SFM, kehadiran buku ini dapat memberikan informasi yang memadai.***
*) Dr. Juniarso Ridwan, penyair. Sumber Pikiran Rakyat, 21 Maret 2004  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
CERITA PENDEK
sebelum senja dikemas derai hujan di kios koran pinggir jalan, di sampul majalah murahan, aku melihat fotomu setengah bugil setengah gokil nyalang mata rahwana ingin menelan tubuhmu
kegelapan menarik kerudungmu di situ membuka jalanku ke hutan larangan. "Ada yang lebih bagus dari ini," bisik tukang koran sambil lirik kanan lirik kiri. "Pokoknya sip deh!"
sesuatu terasa bedah di rongga dada. Detik jam bergeser lagi. Remang lampu jalanan disaput debu kehidupan. Kesepian mengoyak kalbuku.
di langit cambuk cahaya membelah awan hitam nyalang mata rahwana dibakar nafsu. "Berapa?" tawarnya. Seketika goong totos di rabuku
2006
SEA FOOD KAKI LIMA
cumi-cumi goreng kecap manis di piringku 217 kilometer yang lalu masih hidup di kedalaman laut biru. Maut memang tak bisa diduga: menjaringnya. Tujuh nelayan lalu mengirim hasil
tangkapannya, yang diperam dalam segentong es balok ke kedai ini. Kini perutku jadi kuburan mewah bagi seporsi cumi-cumi goreng kecap manis. Tak ada ombak laut di situ, ganggang merah, udang, dan rajungan:
walau gelombang hasrat senantiasa berdebar-debur di batu karang hatiku, merindu dirimu. "Aku suka oseng kangkung cumi-cumi," katamu, suatu hari. Cuaca
malam berkarat hujan. "Tuan, mau tambah lagi satu porsi?" tanya sang pelayan. Sayang, kau tak ada di sampingku: selagi cumi-cumiku naik darah
2006
CANGRA
aku menggigil disergap kelam kabut kehidupan serombongan burung gagak berkoak-koak di atas kepalaku. Di ujung malam, rohku gelisah di cangkang daging.
tâhâ. Suara lembut dari langit jauh terdengar lagi. tujuh tombak cahaya menikam kegelapan dadaku, sesuatu terdengar rubuh, luluh lantak dalam tubuhku. tâhâ. Ruhku kuyup air mata. Kuyup air mata.
2004
SOP BUNTUT
"tuan, di buncit perutmu apa ada padang rumput?" sepasang sapi jantan dan betina bertanya demikian kepadaku. hujan kembali membaca akar tubuhan yang kering digarang kemarau. Kota disergap demam ribuan buruh pabrik gulung tikar.
sepasang sapi jantan dan betina membayang di kuah sop buntut di restoran hotel bintang lima yang sering dipajak para pecundang. Dan aku terkejut. Mana mungkin di perutku yang buncit ada padang rumput selain hijau padang golf?
begitulah. Maut mengirim isyarat. Dunia menggeliat dalam kobaran api hutan bakar kepala si miskin dipenggal begal di gelap malam raungnya lenyap ditelan lembut alun musik jazz di restoran hotel bintang lima. “Tuan!”
2006
LEMPUNG
aku terkapar dalam ceruk dagingmu bau tanah sehabis hujan bersarang dalam paru-paruku. Suara mantra, kepulan asap dupa, sesaji kembang tujuh rupa mengekalkan kesunyian kita: kesunyian daun gugur di tanah kubur
dalam gelap, amis darah kelahiran terambung lagi.
gaung angin malam menatah cahaya kematian di sekujur tulang punggungku. Ditarik arusmu aku megap-megap bagai ikan di darat. Tali rohmu dan rohku diikat-Nya jadi satu di tiang bulan.
daging nyatanya hanya cangkang bagi roh yang terbang bagai burung-burung attar ke sungguh-sungguh sangkar.
2005
LIMA puisi di atas ditulis oleh penyair Soni Farid Maulana dalam antologi puisi "Opera Malam". Kumpulan puisi ini kian menunjukkan kemampuan Soni Farid Maulana dalam menulis puisi dengan ungkapan yang sederhana dan tidak rumit. Bagi saya puisi ini enak dibaca, kaya makna.
Apakah kumpulan puisi akan masuk dalam Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2008-2009 untuk kemudian keluar jadi pemenang utamanya? Kita berharap demikian. Paling Tidak sudah ada dua buku yang siap dinilai oleh tim juri, seperti "Jantung Lebah Ratu" karya penyair Nirwan Dewanto, dan "Opera Malam" karya Soni Farid Maulana. Kedua penyair ini pernah satu panggung dalam Tiga Penyair Bandung di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 1987 lalu. Penyair lainnya adalah Acep Zamzam Noor. (Sinta Nursanti).***
  | Category: | Music | | Genre: | Folk | | Artist: | Soni Farid Maulana |
"Rembulan Kalangan" merupakan kaset baca puisi dari penyair Soni Farid Maulana yang diproduksi oleh Studio Olah Vokal Adjie Esa Poetra. Di dalam kaset ini, ada 16 puisi yang dibaca Soni dengan gaya yang cukup menarik untuk diapreasi, baik yang bertema cinta, religius, maut, dan sosial-politik.
Kaset ini menarik untuk diapresiasi, bukan hanya pada baca puisinya saja, tetapi juga pada penataan musik yang dikerjakan oleh Adji Esa Poetra yang juga dikenal sebagai pencipta lagu. Di dalam kaset ini antara lain Soni membacakan puisi "Bintang Mati," "Surat Cinta," "Kalau Aku Mati," "Secangkir Teh," "Hujan Turun di Aceh," dan "Di Luar Mimpi." (Linda Widyanti)***
     | Angsana | Jul 22, '07 11:26 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Cetakan I: Maret 2007 Tebal Buku: IX + 55 Halaman Penerbit: Ultimus, Bandung ISBN: 979995606-4
AKHIR-akhir ini terbitnya buku baru dalam kategori puisi cukup marak. Dari Bandung, selain penyair Cecep Syamsul Hari, Acep Zamzam Noor, dan Acep Iwan Iwan Saidi yang menerbitkan kumpulan puisi di tahun 2007, adalah Soni Farid Maulana. Selain itu, Nur Zen Hae, Joko Pinurbo. Isbedy Stiawan ZS dan beberapa penyair lainnya juga menerbitkan buku puisi. Adakah gairah ini muncul dengan amat kuatnya, karena Khatuliswa Literary Award 2006-2007 sudah digelar? Siapakah di antara para penyair tersebut di atas yang kelak masuk dalam kategori Lima Besar? Setelah itu siapa kira-kira yang bakal keluar sebagai juara? Lewat "Sehampar Kabut" Soni masuk dalam Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2005-2006.
Lepas dari itu, Soni Farid Maulana sebagaimana dikatakan oleh Dr. Berthold Damshauser dalam Orientierungen adalah penyair religius, yang puisi-puisinya senafas dengan Amir Hamzah dan Abdul Hadi W.M. Tentu saja antara Soni, Amir Hamzah dan Abdul Hadi W.M., masing-masing punya gaya dan daya pengucapan yang khas. Salah satu puisi Soni yang dinilai religius oleh banyak kalangan itu seperti di bawah ini:
di tengah perjalanan antara rumahku dan tanah kubur Ia menyapaku, "Semoga api dan gigitan tujuh ular berbisa: tak bersarang di tubuhmu" kata-Nya. Ruhku, pucat-pasi. Kalbuku gusar sungguh; miskin alif-lam-ra, ya Rabbi!
"Pastoral", begitu judul puisi tersebut, ditulis penyair Soni Farid Maulana pada 2006 lalu. Puisi tersebut bisa Anda baca di halaman 53 dalam buku ini, yang terbit setelah "Sehampar Kabut" dari penerbit yang sama.
Lewat puisi di atas kita bisa merasakan bagaimana kegelisahan Soni Farid Maulana berhadapan dengan maut; manakala ia menilik ke dalam dirinya sendiri, yang ternyata tidak lebih dan tidak kurang sebagai makhluk yang fana. "Bekal apa yang kelak dibawanya bila mati?" Tentu saja pertanyaan semacam ini bisa juga berpulang ke dalam diri kita sendiri, yakni bila kita mati, bekal apa yang akan kita banggakan saat kita perlihatkannya kepada Allah SWT di hari akhir?
Renungan-renungan religius di dalam buku ini benar-benar menarik untuk diapresiasi. Nilai-nilai islami yang terdapat di dalamnya tidak hanya mewarnai renungannya tentang kematian, tetapi juga mewarnai puisi-puisi cinta yang ditulisnya, yang dianggap nyeleneh oleh sementara penikmat puisi, khususnya kaum perempuan. Misalnya dalam puisi di bawah ini:
Kamar 42
cintaku, ketika bulan memuncak di puting malam; aku melaut di tubuhmu. bukan ikan, udang, atau kerang yang aku cari, di situ.
tapi ketulusan hatimu yang aku buru yang sanggup menerima adaku, daging busuk yang dilahap belatung di tong sampah.
lebih dari itu, cintaku, aku cabe rawit yang pecah di lidahmu
2004
ungakap "cabe rawit yang pecah di lidahmu" benar-benar orsinil dan menyentak kesadaran kita. Setidaknya lewat ungkapan semacam itu, kita bisa merasakan bagaimana gairah cinta yang panas dan tidak bisa dilupakan itu benar-benar mengganggu kesadaran kau lirik. Dalam konteks inilah kematangan Soni Farid Maulana sebagai penyair benar-benar tampak ke permukaan. Karena itu tak aneh kalau si burung merak Rendra mengatakan, "Puisi-puisi Soni Farid Maulana kadang terasa melodramatis. Sejumlah karyanya menunjukkan penguasaan metafora dan plastisitas bahasa, serta temanya menunjukkan penguasaan dan kesadaran akan kehidupan." (Stefani Darwaman)
  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Penerbit : Pustaka Latifah, Bandung Tebal : 120 halaman Cetakan : 2004
PUISI dan cerita pendek (cerpen) memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya pada penggunaan bentuk pendek. Namun justru dalam kependekannya itulah dituntut hadirnya kristalisasi makna. Keutuhan dan kepadatannya merupakan dunia tersendiri. Sebuah puisi adalah sebuah dunia, kata penyair Chairil Anwar yang mati muda itu. Begitu pula sebuah cerpen adalah sebuah dunia Satu cerpen berbeda dengan cerpen yang lain. Perbedaannya pada mediumnya. Dalam puisi dipusatkan pada kata. Sepatah kata dapat berarti sebuah imaji. Sedangkan dalam cerpen, imaji dibangun dari kalimat-kalimat yang lebih prosais. Dengan demikian kristalisasi puisi lebih menginti pada kata. Dalam cerpen pada kalimat-kalimat yang membangun suatu gambaran. Dapat dibayangkan, betapa melelahkanya apabila sebuah cerpen ditulis secara puisi. ** Soni Farid Maulana kita kenal sebagai penyair. Dan kini ia menerbitkan sebuah kumpulan cerita pendek, Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati". Memang bukan hal yang istimewa. Banyak penyair lainnya yang juga menulis cerpen, seperti Dylan Thomas, Khalil Gibran, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Sitor Situmorang. Memang sebaiknya seorang cerpenis itu juga seorang yang berjiwa penyair, meskipun ia tak pernah menulis puisi. Bekal kepenyairan seorang cerpenis akan memberikan kepekaan dan kepadatan di dalam karya-karya yang ditulisnya. Sebagai penyair yang telah melahirkan banyak buku puisi, Soni Farid Maulana boleh dikatakan seorang penyair lirik. Ia mendekati objeknya dari dalam diri subjek puisinya. Ada semacam peristiwa percakapan-dalaman dalam banyak puisi-puisinya. Aku lirik puisi-puisi Soni amat bervariasi, mulai dari pengemis, si korban, suami, istri, tokoh wayang, bahkan cacing. Dan dengan sendirinya ada Soni himself di dalamnya. Puisi-puisi Soni mengalir dari mata airnya yang melimpah ruah. Apa pun yang disambar Soni dalam setiap jenis tulisannya, bakat kepenyairannya mesti ikut berbicara. Apa pun yang dijamahnya lantas berbau puisi. Begitu pula dalam cerpen-cerpennya ini, jejak kepenyairan Soni amat terasa. Sepertinya ia kadang lupa bahwa tugasnya adalah bercerita. Sebagian cerpen dalam bukunya ini juga bersifat liris. Empat dari delapan cerpennya boleh dikatakan bersifat epik, meskipun tetap ada penukikan renungan atas diri tokohnya, akhirnya liris juga. Cerpen epiknya yang pertama adalah Wesel Terakhir. Di sini ia mengolah aktualitas historis, seperti halnya cerpen-cerpen yang bergaya demikian dalam kumpulan ini. Harus dicatat bahwa Soni Farid Maulana juga seorang wartawan. Sebagai jurnalis ia banyak melihat dan mendengar. Pengalaman sosialnya amat kaya, terutama pengalaman di lingkungan para sastrawan dan seniman lukis, karena Soni adalah asisten redaktur budaya di HU. Pikiran Rakyat. Pergaulannya yang luas dengan para seniman ini merupakan bahan yang tak habis-habisnya digali dalam cerpen-cerpennya. Boleh dikatakan cerpen-cerpennya ini bertumpu dalam setting yang demikian. Cerpen ini, Wesel Terakhir, amat kontekstual. Soni menyabet peristiwa dihapusnya lembaran budaya di koran-koran; akibat dunia pers kekurangan daya beli kertas. Di sini Soni menukik pada mentalitas bangsa yang menempatkan persoalan budaya dalam deret terakhir setelah rubrik olah raga. Meskipun dalam cerpennya ini Soni memfokuskan inti cerita pada diri seorang penulis budaya sebagai "korban", ia berhasil pula dalam menunjukkan nilai yang lebih hakiki; tentang karakter bangsa yang sedang tumbuh ini. Cerpen epiknya yang kedua adalah Zabaza, bermain di negeri antah berantah, karena dalam peta memang tak dikenal negara dan bangsa Katenga. Tetapi jelas yang diacunya, ya, Indonesia ini. Soni dengan jitu menyindir perilaku sastrawan dan seniman kita yang memang rata-rata miskin itu, yang sering menjadi korban kemiskinannya. Sastrawan dan seniman bisa "dibeli" juga. Ada seniman dan sastrawan yang "diternak" oleh mereka yang lebih kaya demi kepentingan si pendana. Tulisan-tulisan yang bernada memuji jangan lekas dipercaya, boleh jadi ada money politics di belakangnya. Zigizi dalam cerpen ini, meskipun sastrawan ternakan, namun masih eling dan waspada dengan menuliskan suara hati dan suara pikirannya yang sejati. Hampir mirip dengan tema di atas adalah cerpen Kolektor. Inilah peristiwa budaya di negeri kita ketika para sastrawan ramai-ramai ikut jadi pelukis, akibat boom seni rupa yang membuat banyak pelukis jadi kaya, bahkan paling kaya dibanding dengan jenis seniman-seniman lainnya. Soni mengalihkan perhatian kita bukan pada persoalan itu, akan tetapi pada polemik seni rupa akademik dan seni rupa autodidak. Banyak pula pelukis akademik yang tidak ketularan boom. Cerpen terakhir dari jenis kotekstual ini adalah Paris la Nuit. Kisahnya mengenai perlawatan seorang penyair ke Kota Paris. Semua pengalaman baru merupakan pengalaman transenden. Dan penyair ini menceritakan pengalaman seperti itu, yang bagi mereka yang telah terbiasa tak menimbulkan transendensi. Tentang hal ini, saya teringat Indonesianis asal Australia, George Quinn, yang sangat berbunga-bunga ketika habis menelusuri Jalan Tamblong, Bandung, yang menjadi setting novel Orexas karya Remy Silado. Waktu itu saya dia traktir makan di Hotel Panghegar setelah siangnya ngoprek buku-buku tua di Pasar Palasari sebelum terbakar. Jalan Tamblong dan Orexas? Ah biasa-biasa saja kok. Jenis cerpen-cerpen Soni yang naratif ini bisa dikembalikan pada peristiwa-peristiwa historis yang dialaminya. Bahkan kita dapat menduga-duga siapa dimakan siapa dalam cerpen-cerpennya ini. Di sini Soni lebih jurnalis daripada penyair. Meskipun demikian watak kepenyairannya menyelusup juga dalam pengkisahannya. ** MARILAH sekarang kita lihat cerpen-cerpen Soni yang lebih berkarakter kepenyairan. Kalau dalam cerpen-cerpen kontekstualnya begitu gamblang dan jelas, maka cerpen-cerpen yang lain ini justru memikat karena ketidak jelasannya. Berkali-kali Soni menyisipkan baris-baris puisi ke dalam cerpen-cerpennya. Ini menunjukkan sikap gatal kepenyairannya setiap kali ia menyentuh objek yang merangsangnya untuk berpuisi. Cerpen Kegelapan dan Tangis Rahwana dapat dikatakan mirip. Di sini Soni bermain dengan waktu, antara keabadian yang spiritual dengan aktualitas yang kesementaraan. Cerpennya yang pertama itu berkisah tentang seorang perempuan di taman pada suatu tengah malam. Perempuan itu hidup terus beratus tahun dalam ratapan kehilangan yang dicintainya. Cinta itu sesuatu yang di luar waktu, baik ketika memperoleh cinta maupun kehilangan cinta. Cinta itu transendensi. Spiritual dan bukan sensual. Namun yang spiritual itu hadir dalam yang sensual, dan yang sensual mengandung bobot spiritual. Cinta itu bentuk ambivalensi spiritual-sensual antara lelaki dan perempuan. Perempuan ini menunggu kepulangan kekasihnya, di rumahnya yang sekarang telah jadi taman kota. Dunia ini boleh berubah, tetapi cintanya sama sekali tetap. Dan kekuatan cinta inilah yang membuat dirinya "hidup" ratusan tahun. Ironisnya (karakter ini agak melekat pada diri Soni) lelaki yang dia tunggu-tunggu itu, tiba-tiba mati ditembak seseorang yang mengiranya bajingan. Cerpen yang kedua juga bermain antara waktu dan tak berwaktu dalam percintaan antara Rahwana dan Sita. Di sini sikap Ironik Soni muncul lagi. Cinta abadi bukan antara Rama dan Sita, tetapi antara Rahwana dan Sita. Dalam pandangan Soni, Rama patut diragukan ketulusan cintanya pada Sita, karena ia tak mampu menerima apa adanya, setelah Sita diculik dan dibebaskan dari penculikannya. Justru Rahwana yang benar-benar mencintainya, yang semula secara sensual tetapi kemudian berkembang secara spiritual. Rahwana lebih mampu mencintai Sita tanpa syarat apapun. Dua cerpen ini menurut pendapat saya, merupakan cerpen-cerpen terbaiknya, justru kepekatan kepenyairannya yang bermain di dalamnya. Seni yang sejati adalah dunia tengah, antara yang di luar waktu dan yang ada di dalam waktu, antara yang tidak dikenal dalam pengalaman dan yang telah dikenal lewat pengalaman. Oleh karenanya seni semacam itu selalu menghadirkan transendensi, suatu yang baru dan segar, seperti penyair yang pertamakali melihat Paris. Suasana yang dibangun di dalamnya memasuki ketakjelasan antara logis dan instingtif. Tetapi kita sepakat mengatakan ada kebenaran dalam ceritanya. Seni selalu hadir dalam waktu yang ambigu, antara tertangkap dan tidak tertangkap, antara jelas dan tidak jelas. Ada ketidakpastian yang menggoda. Seni menjadi bentuk pengalaman yang simbolik. Simbolnya sendiri adalah suatu kepastian, namun yang disimbolkannya itulah yang tidak pasti. Pengarangnya sendiri kadang juga memahami adanya ketidakpastian itu, namun ia merasakan ada kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang mana? Kebenaran yang menjadi kemungkinan di dalam simbol itu. ** CERPEN-cerpen kontekstual Soni sudah jelas apa yang dimaksud. Bahkan pembaca dapat mengembalikan pada peristiwa historisnya, cerpen-cerpen jenis ini kurang menggoda, kurang membangkitkan penasaran untuk bertanya-tanya. Tetapi cerpen Kegelapan dan Tangis Rahwana menjebak kita di dunia tengah penciptaan, sisi gelap dan sisi terang menyatu dengan di dalamnya. Dunia remang-remang yang merangsang dan menggoda. Seni adalah kejelasan dalam simbol tetapi ketidak jelasan dalam makna. Dua cerpennya yang tersisa, yakni, Party Line dan Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati berada antara kualitas epik dan kualitas lirik. Dua cerpen ini mengandung konteks sosial yang jelas sebagai acuan maknanya, namun digambarkan secara ahistoris. Dalam cerpennya yang pertama itu digambarkan seorang bos yang hedonis sepanjang hidupnya, tiba-tiba mengalami kejenuhan hedonistiknya dan jatuh dalam rasa kekosongan yang menganga bak sumur tanpa dasar. Cara melukiskan suasana hati (pengalaman seni) kurang kualitatif, tidak seperti dalam dua cerpennya itu, Kegelapan dan Tangis Rahwana. Cerpennya ini lebih naratif-deskriptif. Ada semacam menjelaskan kualitas itu secara rasional. Demikian pula dengan cerpennya Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati yang konteks ceritanya jelas, yakni ramai-ramai soal posmo yang menolak Tuhan. Pengalaman menolak Tuhan dan kehilangan Tuhan itulah yang kurang hadir walau masih tersisa greget di dalamnya. Pengalaman kerinduan seorang perempuan menjelujuri seluruh cerita dalam Kegelapan, begitu pula "perburuan" cinta Rahwana terhadap Sita dalam cerpen Tangis Rahwana hadir secara empiris, dan bukan logis seperti dalam Party Line dan Di Ranjangmu Aku Tahu Aku Mati. Benar bahwa seni memerlukan pemikiran, akan tetapi pemikiran itu diungkapkan dalam pengalaman. Bentuk pengalaman cerita itulah yang menyimpan logika di baliknya. Struktur berpikir dalam seni tersembunyi dalam bentuk empiriknya. Sebuah karya seni pertama-tama bukanlah pengetahuan, tetapi pengalaman. Seperti kata Chairil di atas, ia merupakan dunia tersendiri. Cerpen itu sebuah dunia virtual. Puisi itu sebuah dunia virtual. Ia ada dalam dirinya sendiri. Seni itu mendampingi dunia ini. Memang seni bertolak dari dunia ini, karena kita menimba pengalaman dari dunia ini. Tapi seni bukan dunia ini lagi. Ia berada di luar waktu dunia, seperti dalam Kegelapan dan Tangis Rahwana, dua cerpen Soni yang terbaik dalam antologi ini. (Prof. Drs. Jakob Sumardjo)***
  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Kata Penutup: Bambang Q-Anees Tebal Buku: 2003 Halaman Peberbit: Q-Press Cetakan I:1 Maret 2005 ISBN: 979-9`09-23-X
DALAM cerpen-cerpen Soni Farid Maulana yang terkumpul dalam "Orang Malam" kita akan menemukan dunia realis dan surealis berbaur, mengungkap cinta, kemanusian, kritik sosial, politik, hingga kritik terhadap kondisi sastra dan budaya kita dengan moralitas yang cukup kental. Semua itu diungkapnya dengan kekuatan bahasa penyair yang ritmis dan liris, yang menimbulkan suasana tertentu di hati pembaca cerpen-cerpennya. Kita juga akan menemukan bagaimana dunia kepenyairan dan jurnalistik dalam cerpen-cerpen tersebut berbaur, memberi segi yang lain dari nilai yang berbeda.
Pendapat tersebut di atas ditulis oleh penyair yang juga dikenal sebagai cerpenis, Nenden Lili Aisyah. Apa yang dikatakan Nenden memang tidak salah. Sepuluh cerita pendek yang ditulis Soni Farid Maulana dalam antologi ini memang asyik dibaca. Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono mengatakan hal yang sama ketika buku ini diluncurkan di Toko Buku Malka, Bandung, pada April 2005 lalu.
Cerpen yang menarik untuk diapresiasi dari buku ini antara lain berjudul "Kegelapan" dan "Sangkuriang". Antara yang realis dan surealis dalam cerpen ini benar-benar berbaur. Prof. Drs. Jakob Sumardjo menyebutnya, Soni bermain antara "waktu" dan "tak berwaktu" dalam menghidupkan tokoh-tokohnya. Setidaknya itulah Soni Farid Maulana. Selain itu dalam dua cerita pendek lainnya, Soni memasukkan pula teks drama yang ditulisnya dalam cerita pendek "Orang malam" dan "Anak Kabut" . Teks drama tersebut bisa dimainkan utuh. (Mayang Prameswari)   | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Tebal Buku : xi + 126 Halaman Cetakan I : April 2006 Penerbit : CV Ultimus, Bandung
kau dengar getar angin di daun bambu? itulah risik rinduku kepadamu. impian terindah: -- adalah sekaratku dalam lipatan cintamu yang kekal.
”EROS” demikian judul puisi tersebut ditulis oleh penyair Soni Farid Maulana pada 1998 lalu. Puisi yang mengungkap kerinduan yang demikian dalam, antara aku lirik dengan kekasihnya itu, merupakan salah satu dari seratus puisi cinta yang ditulis Soni Farid Maulana dalam antologi puisinya terbaru, yang diberi judul ”Sehampar Kabut” (2006). Tahun sebelumnya, Soni menerbitkan antologi puisi ”Secangkir Teh” (Grasindo, 2005). Dalam antologi puisinya ini, Soni tidak hanya mengungkap tema-tema kerinduan dengan berbagai variasinya, tetapi juga mengungkap tema maut, kesepian, dan kesunyian dalam bingkai cinta.
Kemampuan Soni dalam menulis puisi yang demikian itu, memang tidak diragukan, walau diungkap dengan potongan kalimat yang sederhana, seperti puisi di atas, atau puisinya yang lain yang berbunyi: /dalam udara malam sedingin es, aku melangkah lagi/ sebuah sumbu dalam dadaku merindu minyak dan nyala api:/ bagi sebuah jalan yang kutempuh menujumu./ (”In-Sein,” 2000).
Pilihan diksi yang ditulis oleh penyair Soni Farid Maulana dalam puisinya itu, memang tidak aneh-aneh. Hal itu pernah pula dikatakan pakar filsafat Dr. I. Bambang Sugiharto dalam sebuah esainya. Namun demikian, cara Soni memadukan diksi tersebut dalam sebuah kalimat--kendati struktur sintaksisnya biasa saja--seringkali membawa efek imajinatif dan konseptual yang tidak biasa, bahkan mengejutkan. Ia adalah wajah lain dari ”Secangkir Teh” yang juga menarik untuk diapresiasi. Buku ini masuk Lima Besar Khatulistiwa Literary Award 2005-2006 (Rine Puspitasari)***   | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Soni Farid Maulana |
Kata Penutup: Yasraf Amir Piliang Tebal: ix + 151 Halaman Cetakan I: 2005 Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
DALAM kata penutup antologi puisi Secangkir Teh, Yasraf Amir Piliang menulis, puisi-puisi Soni Farid Maulana di dalam kumpulan Secangkir Teh ini, sarat dengan ajakan refleksi dan kontemplasi, yaitu ajakan memahami makna hidup, di dalam dunia masa kini yang semakin jauh dari tanda-tanda ketuhanan. Pintu gerbang yang dimasuki Soni dalam memahami jejak-jejak ketuhanan adalah pintu gerbang cinta, dalam pengertiannya yang paling luas. Cinta merupakan kekuatan puisi Soni, dalam pengertian bahwa melalui metafora-metafora cinta dalam cakrawala yang luas itu, makna-makna religiusitas dapat dihayati secara mendalam.
Tema religius dalam pengertian yang luas dalam konteks cinta, memang merupakan tema puisi garapan penyair Soni Farid Maulana. Pengamat sastra Korrie Layun Rampan dalam bukunya Angkatan 2000: Dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2000) juga mengatakan hal yang sama. Ini artinya, jejak-jejak religiusitas di dalam puisi-puisi Soni bisa dibaca dengan jelas, dan bahkan bisa dilacak sejak ia menulis puisi pada tahun 1976 lalu.
Soni Farid Maulana adalah penyair yang pada masa pertumbuhannya dibesarkan oleh HU Pikiran Rakyat, lewat rubrik ”Pertemuan Kecil” yang diasuh oleh Saini KM pada awal tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an. Selain Soni, dua kumpulan puisi sebelumnya dari Bandung yang diterbitkan oleh Grasindo adalah Saini KM lewat antologi puisi Nyanyian Tanah Air (2000) dan Acep Zamzam Noor dengan antologi puisi Jalan Menuju Rumahmu (2004). Pada tahun 2005 buku puisi Acep tersebut mendapat aungerah SEA Write Award dari Kerajaan Thailand dan juga hadiah sastra dari Pusat Bahasa, di Jakarta.
Jika Yasraf Amir Piliang mengatakan bahwa tema cinta merupakan kekuatan puisi Soni, persoalan cinta yang terdapat di dalamnya jauh dari kesan erotis dan vulgar. Yang hadir justru kesan romantis dan bahkan mistis seperti dalam sebuah puisinya di bawah ini, yang diberi judul ”Parfum Maut” (1987). Isi dari puisi tersebut berbunyi: di atas ranjangmu aku berbaring/angin dingin berhembus/menaburkan mimpi hitam kota besar/seketika bagai kucing lapar dan liar//kau terkam tubuhku tanpa ampun/malam ngalir ke jantungku/bagai cairan infus; dan engkau mengeluh/saat lolong anjing menyeruak dari dasar kuburan.//”apa yang terjadi, apa yang tengah terjadi?/parfum maut yang kuambung/mendesak kita ke arah yang kelam?”//ranjang hanya sunyi. Endapan duka/mengental di dasar jiwa/bergetah sepi//.
Kekuatan cinta yang ditulis dalam puisi-puisinya ini, tidak hanya membayang dalam sejumlah puisi yang bernuansa mistis, tetapi juga membayang dalam sejumlah puisi lainnya, baik yang bersinggungan dengan masalah sosial, religius, dan bahkan maut. Semua itu bisa ditangkap dengan mudah — karena Soni dalam menulis puisi-puisinya tidak menggunakan kata-kata maupun daya ungkap yang rumit. Ia menulis dengan cara yang sederhana. Namun demikian makna yang dikandung di dalam puisi-puisinya tidak sesederhana apa yang ditulisnya.
Pengamat sastra Prof. Dr. Suminto A. Sayuti mengatakan bahwa lirisisme dalam karya-karya Soni cenderung menggapai makna ke-aku-an, tetapi tetap dalam modus ke-kita-an, yakni kebersamaan antara aku dan kau, I and Thou dalam istilah Martin Buber.
Diksi kau dan aku dalam puisi-puisinya ini memang hadir dengan posisi yang tidak hanya merujuk pada aku dengan a huruf kecil, tetapi juga Aku dengan a huruf kapital. Karena itu tak aneh kalau Prof. Dr. Suminto A. Sayuti dalam membaca puisi-puisi Soni Farid Maulana harus masuk ke rimba filsafat Barat dengan menjenguk Martin Buber sebagai bahan rujukannya.
Di dalam antologi ini, Soni menulis juga sejumlah puisi dengan latar belakang luar negeri. Sejumlah puisinya yang bertema musim dingin, baik mengenai Paris, Den Haag, Leiden, dan sejumlah tempat lainnya di Eropa — telah memberikan sebuah pengalaman baru, tentang kerinduan dan keterasingan yang bergaung di dalam batinnya. Dua puisi yang cukup menggetar antara lain berjudul Di Negeri Salju yang didedikasikan kepada Rendra, dan Berjalan di Pinggir Sungai Seine yang dipersembahkan kepada kekasihnya tercinta, Heni Hendrayani. Kedua puisi tersebut ditulis pada tahun 1999. Pada tahun itu, Soni memang berkesempatan ke luar negeri, ke Belanda, mengikuti Festival de Winternachten bersama Rendra, yang setelah itu dilanjutkan ke Paris. Di dalam puisi-puisinya, tema cinta hadir pula dalam konteks sosial-politik yang pedih, yang berkait erat dengan ingatan-ingatannya yang menukik ke tanah air.
Paling tidak, membaca antologi puisi Secangkir Teh yang ditulis sepanjang 1982-2004 adalah membaca panorama batin Soni Farid Maulana dalam menulis puisi. Sebagai penyair, Soni tidak hanya dikenal di Indonesia saja. Tetapi juga di luar negeri. Ia telah mampu menempatkan dirinya dalam sebuah wilayah yang dikenal orang. Bahwa apa yang ditulisnya terasa ada kekurangan atau kelebihan, adalah suatu yang wajar. Saya yakin, Soni tidak akan puas hanya dengan Secangkir Teh. Ia pasti telah menyiapkan sejumlah puisi lainnya. Rendra bilang, Soni adalah penyair yang berkembang dengan pesat, yang terus mencari kesempurnaan pengucapan bagi puisi-puisi yang tengah ditulisnya. (Flora Agustin, penikmat sastra)*** 
| |